Daya Tarik Lifeskill Kerajinan Kayu Menurut Pandangan Narapidana (Studi
Fenomenologi di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang)
Hussen, Syekh Abu Ali Al. 2014. Daya Tarik Lifeskill Kerajinan Kayu Menurut Pandangan Narapidana (Studi
Fenomenologi di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang). Skripsi,
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Malang. Pembimbing: (1). Dr. Zulkarnain, M.Pd.,
(2). Sopingi. S.Sos, M.Pd.
Kata Kunci: lifeskill kerajinan kayu, narapidana, Lembaga Pemasyarakatan.
Pelaksanaan
pendidikan di Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa
Indonesia yang tertuang dalam pembukaan Undang-undang Republik Indonesia nomor
20 tahun 2003. Tidak terkecuali narapidana yang tengah
menjalani masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan
Klas I Malang. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan
masyarakat dalam meningkatkan keterampilan, maka
diselenggarahkan program
lifeskill kerajinan kayu. Upaya tersebut dilakukan
guna mempersiapkan narapidana untuk kembali ke lingkungan masyarakat. Penelitian
ini bertujuan (1) Mendeskripsikan daya tarik dari program lifeskill kerajinan kayu menurut
peserta program lifeskill kerajinan
kayu di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang., (2) Mendeskripsikan
keuntungan yang diperoleh narapidana dalam mengikuti lifeskill kerajinan kayu di Lembaga Pemasyarakatan KlasI Malang., (3) Mendeskripsikan
program lifeskill kerajinan kayu di
Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam
bentuk kualitatif studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah
teknik wawancara, pengamatan atau observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis
yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pelaksanaan program lifeskill
kerajinan kayu
yang diterapkan lebih berpusat pada praktek kerja, serta senior lebih bersifat mengarahkan warga
belajar untuk belajar. Tahapan proses
pembuatan kerajinan kayu dimulai dengan penyiapan bahan baku yaitu kayu
potongan dan peralatan, kemudian membentuk kayu sesuai keinginan dan tujuan
karya yang dibuat warga belajar. Setelah kerajinan kayu sudah jadi lalu
kerajinan kayu tersebut di amplas atau dihaluskan, kemudian
di pernis atau pengecatan kilap agar hasil karya terlihat bagus dan mengkilap. Daya
tarik pada program lifeskill kerajinan kayu ini adalah warga belajar sangat produktif
dalam pembuatan karya kerajinan kayu. Hal ini dibuktikan dari hasil karya yang
dibuat warga belajar bervariatif dan inovatif.Bimker lifeskill kerajinan kayu ini selalu
menjadi tujuan utama dan favorit
kunjungan tamu dari luar karena hasil karya yang dibuat oleh warga
belajar menurut mereka bagus-bagus dan bernilai tinggi tidak seperti kerajinan kayu di luar lapas.
Warga
belajar senang mengikuti program lifeskill
kerajinan kayu. Hal ini dibuktikan dari kebanyakan dari warga belajar mempunyai
presepsi antusias dalam mengikuti
program lifeskill kerajinan
kayu.Warga
belajar dapat cepat menangkap intruksi senior yang berpengalaman karena senior
dan warga belajar lainnya yang berpengalaman memberikan
arahan dan contoh yang muda dipahami oleh warga belajar lainnya. Selain itu
warga belajar mengungkapkan kondisi atau keadaan bimker yang harmonis membuat
warga belajar nyaman mengikuti program kerajinan kayu ini.Warga belajar
mendapatkan berbagai manfaat dari program ini. Keuntungan
yang diperoleh narapidana dalam mengikuti lifeskill
kerajinan kayu di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang bervariatif ungkapan
perasaannya.
DAFTAR RUJUKAN
Asmani,
Jamal ma’mur. 2009. “Sekolah Life Skills”
Lulus Siap Kerja. Yogyakarta: Diva Press
Bambang,
S & Lukman. 2007. Kelemahan dan
Keunggulan Teori Belajar Andragogi.(Online),(http://www.geocities.com/teknologipembelajaran/andragogi.html,
diakses 12 Maret 2014).
Furchan,
Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam
Penelitian Dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Keputusan
Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.01.PR.07.03 Tahun 1985 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemayarakatan
Lunandi,
A.G. 1989. Pendidikan Orang Dewasa:
Sebuah Praktis untuk Pembimbing, Penatar, Pelatih, dan Penyuluh Lapangan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mappa,
Syamsu & Basleman, Anisah. 1994. Teori
Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Moedzakir, Djauzi.
2010. Disain Penelitian Kualitatif.
Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Moedzakir, Djaudzi. 2010. Metode Pembelajaran Untuk Program-Program Pendidikan Luar Sekolah. Malang:
UM Press.
Moleong, Lexy J.
2005. Metodologi penelitian kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muslihati.
2005. Belajar dan Pembelajaran. Malang:
LP3. UM
Prayitno, Elida. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan
Satori,
Djam’an & Komariah, Aan. 2009.
Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Slamet, PH. 2002. Pendidikan Kecakapan Hidup: konsep dasar, (online),
www.depdiknas.go.id/Jurnal/37/editorial37.htm,
diakses 15 Desember 2013
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Suprijanto.
2007. Pendidikan Orang Dewasadari Teori
hingga Aplikasi. Jakarta Bumi Aksara.
. 2012. Wikipedia Ensiklopedia Bebas, (online),
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajinan, diakses 17 Desember
2013.
Undang-undang
RI No 20 tahun 2003. Tentang Sistem
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) beserta penjelasannya. Jakarta: Depdiknas.
Pedoman Penyelenggaran Program
Pendidikan Kecakapan Hidup. Jakarta: Depdiknas, _______. 2006
Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. (Online), (www.ditjenpas.go.id/),
diakses 14 Desember 2013.
Universitas
Negeri Malang. 2010. Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
Wiyono,
Bambang Budi.2007. Metodologi Penelitian (Pendekatan kualitatif, kuantitatif,
dan action research). Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Rasindo Malang.