Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Life Skill Pada Kampoeng
Wisata Keramik Dinoyo, Malang.
Syekh Abu Ali Al Hussen [1] (syekhalie89@gmail.com)
Abstract
The purpose of this study to
find out how to use the environment as a source of learning life skills at
Kampoeng Ceramic Travel Dinoyo, Malang. These researches methods using
qualitative researches, researches that kind of case studies. The results of
these researches note that craftsmen optimize all the potential that exists in
the environment as a learning resource life skilldengan follow training and
comparative study organized by the government and private institutions.
Craftsmen also working with schools and universities to share their knowledge
and skills in the field of ceramics. Then craftsmen harnessing reading books,
internet, and social media in improving life skills ceramics. The problem faced
by craftsmen Dinoyo are not able to make their own raw materials are like
glastu and masse because they depend by UPT Craft Ceramics. Facilities and
infrastructure that exist in the environment has not been sufficient so that
the lack of facilities to improve the life skills of ceramic craft. Lack of a
functioning community Dinoyo ceramics led to a lack of togetherness and the
development of human potential that is thorough, the craftsmen compete
individually in the improvement efforts. There needs to be a cooperative unitcan
be a container ceramic potters Dinoyo morning.
Keywords : ceramic crafts environment , life skills , learning resources .
Abstrak
Tujuaan
penelitihan ini untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan lingkungan sebagai
sumber belajar life skill pada Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo, Malang. Metode
Penelitihan ini menggunakan metode penelitihan kualitatif, jenis penelitihan
yaitu studi kasus. Hasil penelitihan ini diketahui bahwa pengrajin
mengoptimalkan segala potensi yang ada di lingkungannya sebagai sumber belajar
life skilldengan mengikuti Pelatihan dan study banding yang diselenggarakan
oleh pemerintah dan lembaga swasta. Pengrajin juga melakukan kerja sama dengan
sekolah-sekolah dan universitas untuk saling berbagi pengetahuan dan
ketrampilan dalam bidang kerajinan keramik. Kemudian pengrajin memanfaatkan
sumber buku bacaan, internet, dan media social dalam meningkatkan life skill kerajinan
keramik. Kendala yang dialami oleh pengrajin dinoyo yaitu belum bisa membuat
sendiri bahan baku seperi glastu dan masse karena masih tergantung oleh UPT
Kerajinan Keramik. Sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekitar belum
cukup memadai sehingga kurangnya kemudahan untuk meningkatkan life skill
kerajinan keramik. Kurang berfungsinya paguyuban keramik Dinoyo menyebabkan
kurangnya kebersamaan dan perkembangan potensi SDM yang menyeluruh, para
pengrajin berkompetisi sendiri-sendiri dalam peningkatan usahanya. Dibutuhkan
adanya koperasi unit keramik yang dapat menjadi wadah pagi pengrajin keramik
Dinoyo
Kata Kunci: kerajinan keramik lingkungan, life
skill, sumber belajar.
Pendahuluan
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah diberlakukan saat ini sejak tahun 2015. MEA
merupakan salah satu pilar-pilar impian masyarakat ASEAN yang dicetuskan dalam
kesepakatan Bali Concord II. Masyarakat ASEAN diharapkan memiliki 4 karakteristik utama yaitu sebagai (1) pasar
tunggal dan kesatuan basis produksi, (2) kawasan ekonomi yang berdaya saing,
(3) pertumbuhan ekonomi yang merata, dan (4) meningkatkan kemampuan untuk
berintegrasi dengan perekonomian global.
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) meningkatkan
kemampuan untuk berintegrasi dengan perekonomian global. MEA membawa dampak positif dan dampak negatif kepada
Usaha Kecil Menengah UKM di Indonesia, termasuk juga UKM yang ada di Kota dan
Kabupaten yang ada di Indonesia. Salah satu kota di wilayah Indonesia yang
menerapkan MEA adalah Kota Malang. Dampak positif yang muncul adalah masyarakat
dapat menjual dengan bebas barang-barang hasil produksinya ke Negara di ASEAN
dengan mudah, namun dampak negatifnya akan banyak produk-produk yang masuk
kedalam negeri sehingga menjadikan persaingan menjadi lebih ketat.
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua
di Jawa Timur setelah kota Surabaya yang letaknya sangat strategis
ditengah-tengah Wilayah Kabupaten Malang, memiliki iklim yang sejuk dengan suhu
max/min 20 C s/d 28 C karena berada pada ketinggian 440-667 m diatas permukaan
laut dengan luas wilayah 110.006 km2. Dengan kelebihan tersebut menjadikan kota
Malang memiliki banyak potensi antara lain dalam bidang Pendidikan, pariwisata,
industri, pertanian dan perdagangan. Kota Malang yang juga dikenal dengan
sebutan Kota Tri Bina Cipta, Kota Pendidikan, Industri dan Pariswisata.
Diakui bahwa di daerah-daerah banyak berkembangan usaha
mikro kecil (UKM) untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Adakalanya perkembangan usaha mikro kecil tersebut mengalami kemajuan dan tidak sedikit yang hanya jalan di tempat (stagnancy)
dan, bahkan
ada yang gulung tikar. Demikian juga halnya usaha mikro kecil di Kota Malang yang banyak berbergerak
diberbagai unit usaha. Salah satu di
antaranya adalah usaha mikro kecil keramik Dinoyo
yang digeluti oleh masyarakat Dinoyo sejak tahun 1962 dan telah menjadi Kawasan Pusat Sentra
Keramik di Kota Malang.
Keramik
Dinoyo ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat kota Malang saja, tetapi sudah terkenal di seluruh Indonesia Bahkan Luar Negeri. Pembeli
datang dari berbagai daerah, bukan hanya masyarakat
dari wilayah Malang dan sekitarnya,tetapi juga
masyarakat dari luar Malang bahkan masyarakat luar Jawapun banyak yang berdatangan di Dinoyo untuk belanja kerarnik dan
sejenisnya, baik itu untuk dikonsumsi sendiri
maupun untuk diperdagangkan seperti dari Kalimantan,Sulawesi, Nusa Tenggara,
Bali, Padang, Lampung, Aceh, Sumatera dan bahkan keramik Dinoyo ini sudah menembus Asia seperti Malaysia dan Singapura.
Pasca badai
krisis ekonomi (moneter) Indonesia tahun 1997 dan kenaikan BBM awal tahun 2005 sampai sekarang, memicu menyebabkan turunnya permintaan di beberapa bidang
usaha. Sebagai sentra produksi keramik dengan berbagai
macam bentuk produksinya, masyarakat Dinoyo juga tidak terlepas dari terpaan krisis ekonomi yang mengakibatkan biaya
produksi untuk setiap satu unit barang
meningkat tajam, meningkatnya harga bahan baku, namun harga jual produk tidak meningkat. Pada awalnya terjadi
penurunan produksi karena permintaan
turun, tetapi tidak beberapa lama terjadi peningkatan permintaan, yang secara tidak langsung menuntut adanya peningkatan
produksi.
Perkembangan
kondisi dinamika sosial ekonomi pengusaha keramik Dinoyo ini diduga terjadi karena adanya faktor internal dan
eksternal serta lingkungan yang saling menunjang. Pertama faktor internal, kondisi ini terlihat dengan
adanya dinamika SDM dan mobilitas sosial masyarakat yang berupaya saling memberdayakan diri dalam sektor usaha keramik. Hal ini disebabkan tutupnya pabrik keramik
Dinoyo pada tahun 2008 menyebabkan para pengrajin harus bisa survive, melanjutkan kehidupannya dengan
berdaya dan mandiri. Melihat prospek
yang cukup bagus di sektor usaha keramik, anggota
masyarakat yang semula sebagai pekerja pada pabrik keramik dinoyo memberanikan diri untuk mendirikan sendiri usaha keramik dengan modal pengalaman dan keterampilan serta
tabungan yang dimilikinya.
Kondisi keadaan lingkungan masyarakat memang memiliki potensi untuk
berkembang dengan adanya usaha yang dimiliki dan menguatnya hasrat untuk lebih berdaya mendorong masyarakat
yang menggeluti usaha keramik untuk meningkatkan produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam
diri pengusaha
keramik berupaya pengoptimalan SDM secara maksimal dengan memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya
dan potensi yang ada di lingkungan sekitar kawasan kampoeng wisata keramik
Dinoyo untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya. Untuk
dapat mempertahankan eksistensi UKM dan mampu bersaing dengan Negara-negara
ASEAN maka dibutuhkan suatu yang berada di masyarakat Kota Malang.
Salah satu upaya dalam upaya pengoptimalan
SDM yang berkualitas dan kompetitif bagi
pelaku UKM kerajinan keramik yaitu pendidikan kecakapan hidup (life skill education). Pendidikan
kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan dengan
memanfaatkan yang ada, dilakukan secara benar kepada pengerajin tentang
nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan
terampil menjalankan kehidupannya yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan
perkembangannya dimasa yang akan datang.
Pendidikan kecakapan Hidup yaitu menciptakan adanya
sistem lingkungan (setting) belajar yang lebih kondusif dalam proses
pembelajaran. Sistem lingkungan belajar ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa
komponen yang saling memengaruhi. Untuk mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran tersebut, salah satu faktor yang penting adalah tersedianya sumber
belajar yang cukup bagi pengerajin. Dengan melihat tujuan pembelajaran life skill di dunia kerja yang erat kaitannya dengan pemanfaatan
lingkungan sekitarnya, maka sumber belajar untuk proses pembelajaran life skill di dunia kerja tidak akan cukup dengan hanya mengandalnkan
ketersediaan orang yang ada.
Sumber
belajar life
skill di dunia kerja akan lebih
optimal jika didukung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan tempat
tinggal pengerajin, atau lingkungan dimana dunia kerja itu
berada. Dalam pengertian yang sederhana, sumber belajar diartikan sebagai orang dan bahan pelajaran baik buku-buku bacaan, peralatan, dan lingkungan. Barbara S. Seels dan Rita C.
Richey (1994 : 13) menyatakan ” Sumber belajar adalah asal yang mendukung
terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dan
lingkungan”. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan dan alat yang
digunakan dalam proses pembelajaran saja, melainkan tenaga, biaya dan
fasilitas.
Sumber
belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk
belajar dan menampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi, pesan, orang,
bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1994). Edgar Dale yang dikutip Fuat
Mulyadi Nazir (2005 : 50) sumber belajar itu pengalaman. Ia mengklasifikasikan
pengalaman yang dipakai sebagai sumber belajar menurut jenjang tertentu
berbentuk Cone of experience atau kerucut pengalaman yang disusun dari
konkret sampai yang abstrak.
Edgar
Dale dalam Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 162) mengemukakan sumber belajar adalah, ”segala sesuatu
yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar pengerajin dengan: (1)
Mengalaminya secara langsung (pengalaman langsung dan bertujuan, pengalaman
tiruan, pengalaman dramatis, pengalaman percontohan, dan pengalaman darma
wisata); (2) Mengamati orang lain melakukannya (pengalaman pameran, penglaman
televisi, pengalaman film, penglaman radio), dan (3) membaca (pengalaman
lambang visual, dan pengalaman lambang kata). ”. Ada dua macam sumber belajar,
yaitu sumber belajar yang memang dikembangkan dan disiapkan yang disebut dengan resources by design, dan sumber belajar yang
tidak direncanakan secara khusus untuk pengajaran, tetapi dapat digunakan untuk
belajar yang disebut dengan resources by utilization, Terdapat enam macam
sumber belajar yaitu pesan, orang,
bahan, alat, teknik dan latar lingkungan, AECT (1977).
Dari
pendapat mengenai sumber belajar terdapat kesamaan yaitu segala sesuatu yang
dapat dipergunakan sebagai sumber belajar bagi pengerajin. Dengan kata lain,
sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan
yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang
life skill kerajinan keramik yang dipelajarinya. Oleh karena itu,
sumber belajar yang beraneka ragam, diantaranya berupa bahan pembelajaran
memberikan sumbangan yang positif dalam peningkatan mutu SDM, apalagi dengan diberlakukannya pasar
bebas ASEAN sekarang ini, dunia kerja dituntut untuk dapat
turut serta dalam persaingan pasar bebas Asean. Pembelajaran
akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan lingkungan yang dekat dengan
pengerajin. Pengerajin akan lebih mudah meningkatkan
potensi dirinya jika memanfaatkan sumber belajar yang ada di sekitarnya..
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa selama ini masih
kurangnya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill menyebabkan ketertingaalan kemajuan disain, model,
efektifitas, dan efisiensi produk keramik yang dibuat (O1/P1/2015/11/24). Diketahui
bahwa pengrajin kurang mampu memanfaatkan potensi lingkungan yang ada untuk
meningkatkan kualitas hidupnya.
Penelitihan ini memfokuskan kepada pemanfaatan lingkungan
sebagai sumber belajar life skill yang
dilaksanakan oleh pengrajin unit sentra kerajinan keramik dinoyo. Dalam hal ini
pemanfaatan dan pengoptimalan lingkungan pekerjaan untuk meningkatkan kemampuan
dan ketrampilan dalam meningkatkan potensi pengrajin keramik Dinoyo. Selanjutnya masalah tersebut dikaji dalam penelitihan ini yaitu Bagaimana pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill pada kampoeng Wisata Keramik
Dinoyo, Malang?
Landasan Teori
1.
Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)
Menurut
Indrajati sisi (2002), kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang
untuk mampu menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa
tertekan, kemudian secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga
akhirnya mampu mengatasinya. Dalam pandangan Slamet PH (2002), kecakapan hidup
adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan oleh
seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.
Brolin (1989), mengemukakan bahwa
kecakapan hidup merupakan pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh
seseorang untuk berfungsi dan bertindak secara mandiri dan otonom dalam
kehidupan sehari-hari, tidak harus selalu meminta bantuan dan petunjuk pihak
lain. Ini berarti bahwa bentuk kecakapan hidup berupa pengetahuan sebagai praktis dan kiat (praxis dan techne), bukan teori; pengetahuan
sebagai skills of doing sekaligus skills of being. Pendidikan berjalan
pada setiap saat dan pada segala tempat. Setiap orang dari anak-anak hingga tua
mengalami proses pendidikan melalui apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan.
Walaupun
tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan, secara alamiah setiap orang akan
terus belajar dari lingkungannya. Pendidikan kecakapan
hidup diartikan sebagai
proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi pengerajin. Apabila
dikaitkan dengan life skill, maka
pendidikan sebagai sistem yang pada dasarnya merupakan sistematisasi dari
proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu, secara filosofis pendidikan
diartikan sebagai proses pengalaman belajar yang berguna bagi pengerajin,
pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki pengerajin, sehingga siap digunakan untuk memecahkan
problema dalam kehidupan yang dihadapi. Pengalaman yang diperoleh diharapkan
dapat mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan
sesungguhnya.
Pendidikan
yang dapat disinergikan berbagai pembelajaran menjadi kecakapan hidup yang
diperlukan seseorang, dimanapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun
profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup tersebut, diharapkan para lulusan akan
mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari dan
menciptakan pekerjaan bagi meraka yang tidak melanjukan pendidikannya,
(Depdiknas, 2002). Kendall dan Marzano (1997) menegaskan bahwa kecakapan hidup
(life skill) telah menjadi salah satu
hal yang harus dimiliki dan dikuasai oleh masyarakat, termasuk pengerajin, agar
mereka mampu berperan aktif dalam lapangan kerja yang ada serta mampu
berkembang.
Indrajati
Sidi (2002) menyatakan bahwa kecakapan hidup lebih
luas dari keterampikan untuk bekerja, dan dapat dipilih menjadi lima, yaitu:
(1.) kecakapan mengenal diri (self awarness), yang juga disebut kemampuan
personal (personal skill), (2.) kecakapan berpikir rasional (thingking skill, (3.) kecakapan sosial (social skill), (4.) kecakapan akademik (academic skill), dan (5.) kecakapan
vokasional (vocational skill). Tujuan
pendidikan kecakapan hidup adalah mengfungsikan pendidikan sesuai dengan
fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi pengerajin untuk menghadapi
perannya dimasa datang. Secara khusus, pendidikan berorientasi kecakapan hidup
bertujuan : (1.) mengaktualisasikan potensi pengerajin sehingga dapat digunakan
untuk memecahkan problema yang dihadapi, (2.) memberikan kesempatan kepada masyarakat
untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip
pendidikan berbasis luas, dan (3.) mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya
lingkungan yang ada dimasyarakat, dengan prinsip manajemen berbasis masyarakat
(indrajati sidi, 2002).
Dari uraian diatas maka dapat
disarikan bahwa kecakapan hidup (life
skill) adalah kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan
sukses, bahagia dan secara bermartabat, seperti kemampuan berfikir,
berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai
warga Negara yang bertanggung jawab dan mampu
berkompetisi di dunia kerja khususnya bidang kerajinan keramik.
2.
Sumber Belajar
a.
Pengertian Sumber Belajar
Barbara
S. Seels dan Rita C. Richey (1994 : 13) menyatakan ” Sumber belajar adalah asal
yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan
pembelajaran dan lingkungan”. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan
dan alat yang digunakan dalam proses pembelajaran saja, melainkan tenaga, biaya
dan fasilitas.
Sumber
belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk
belajar dan menampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi, pesan, orang,
bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1994). Sumber belajar adalah segala
sesuatu dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu. Pada proses belajar
komponen sumber belajar itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara
kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang
dimanfaatkan. Edgar Dale yang dikutip Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 50) sumber
belajar itu pengalaman. Ia mengklasifikasikan pengalaman yang dipakai sebagai
sumber belajar menurut jenjang tertentu berbentuk Cone of experience atau
kerucut pengalaman yang disusun dari konkret sampai yang abstrak.
Edgar
Dale dalam Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 162) mengemukakan sumber belajar adalah,
”segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar pengerajin
dengan: (1) Mengalaminya secara langsung (pengalaman langsung dan bertujuan,
pengalaman tiruan, pengalaman dramatis, pengalaman percontohan, dan pengalaman
darma wisata); (2) Mengamati orang lain melakukannya (pengalaman pameran,
penglaman televisi, pengalaman film, penglaman radio), dan (3) membaca
(pengalaman lambang visual, dan pengalaman lambang kata). ” Dari pendapat
mengenai sumber belajar terdapat kesamaan yaitu segala sesuatu yang dapat
dipergunakan sebagai sumber belajar bagi pengerajin. Dengan kata lain, sumber
belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang
diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang
pekerjaan atau mata pelajaran yang dipelajarinya.
b. Tujuan
Sumber belajar
Sumber
belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpandalam berbagai
bentuk media, yang dapat membantu pengerajin dalam belajar sebagai perwujudan
dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video,
format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan
oleh pengerajin ataupun pendidik.
Sadiman
mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar
(Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk
Pembelajaran, makalah, 2004) adlah; (1) Tempat atau
lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar
atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai
tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya tempat kerja, lingkungan
sekitar pekerjaan. perpustakaan, pasar, sungai, gunung, tempat penyelenggara
pendidikan, UPT Keramik Provinsi Jawa Timur, dan lain sebagainya. (2) Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya
perubahan tingkah laku bagi pengerajin, maka benda itu dapat dikategorikan
sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya. (3) Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di
mana pengerajin dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat
dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya pendidik, ahli keramik, dinas
kebudayaan dan pariwisata, dan ahli-ahli lainnya. (4) Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks
tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk
belajar.(5) Buku yaitu segala macam buku yang dapat
dibaca secara mandiri oleh pengerajin dapat dikategorikan sebagai sumber
belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, karya ilmiah kamus, ensiklopedi,
fiksi, buku kerajinan keramik, dan lain sebagainya.(6) Peristiwa dan fakta
yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, pengangguran, kemiskinan,
peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang pendidik dapat menjadikan
peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
c. Macam-macam
Sumber Belajar
Sumber
belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat
digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi pengerajin. Sumber
belajar ini bermanfaat dalam memberikan sumbangan yang positif untuk
peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Terdapat enam macam sumber belajar yaitu pesan,
orang, bahan, alat, teknik dan latar lingkungan, Jenis sumber belajar
menurut AECT (1977) dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1)
Pesan (messages),
yaitu informasi yang ditransmisikan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta,
seni, dan data. Dalam sistem persekolahan, pesan ini berupa seluruh mata
pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik..
2)
Orang (peoples),
bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Coba Anda berikan
contoh? Contohnya guru, dosen, tutor, pustakawan, laboran, instruktur,
widyaiswara, pelatih olah raga, tenaga ahli, produser, peneliti dan masih
banyak lagi, bahkan termasuk peserta didik itu sendiri. Selain itu, staf
pendukung dan ahli mata pelajaran sering sebagai sumber untuk pengajar dan
peserta didik. Orang-orang tersebut memiliki pengetahuan luas dan pengalaman
banyak berkaitan dengan sumber-sumber belajar yang menjadi spesialisasinya.
Mereka ini sering dimanfaatkan sebagai fasilitator ketika dibutuhkan oleh
peserta didik karena luas pengetahuan dan pengalamannya. Pada suatu saat
seseorang mungkin sebagai resources by design, namun pada kasus lain,
mungkin sebagai resources by utilization (Anita, 2009).
3)
Bahan (materials),
yaitu perangkat lunak (software) yang mengandung pesan untuk disajikan
melalui penggunaan alat ataupun dirinya sendiri. Coba Anda berikan contoh?
Misalnya buku teks, modul, transparansi (OHT), kaset program audio, kaset
program video, program slide suara, programmed instruction, CAI
(pembelajaran berbasisi komputer), film dan lain-lain.
4)
Alat (devices),
yaitu perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk menyampaikan pesan
yang tersimpan dalam bahan. Coba Anda berikan contoh? Misalnya OHP, proyektor
slide, tape recorder, video player /CD player, komputer, proyektor film, dan
lain-lain.
5) Teknik
(tecniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan
bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Coba Anda
berikan contoh? Misalnya demonstrasi, diskusi, praktikum, pembelajaran mandiri,
sistem pendidikan terbuka/jarak jauh, tutorial tatap muka, dan sebagainya.
6)
Lingkungan (setting), yaitu situasi di sekitar terjadinya proses
pembelajaran di mana peserta didik menerima pesan pembelajaran
Lingkungan
dibedakan menjadi dua macam, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan non fisik.
Lingkungan fisik contohnya, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, aula,
bengkel, dan lain-lain. Sedangkan lingkungan non fisik contohnya: suasana
belajar, tata ruang belajar, ventilasi udara, cuaca, suasana lingkungan belajar
dan lain-lain. Keenam sumber belajar tersebut juga
merupakan komponen system dalam
pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu terdapat keenam
komponen tersebut. Bahan-bahan yang merupakan sumber belajar tersebut perlu
dikembangkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya oleh sebuah badan/wadah yang
disebut Pusat Sumber Belajar agar dapat memberikan kemudahan dan berfungsi
secara optimal untuk proses pembelajaran.
Ditinjau
dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber
belajar yang dirancang (Learning resource by Design) yaitu sumber
belajar yang memang sengaja dibuat
untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi
(OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah
sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (Learning
Resource by Utilization ) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus
dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan
dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah,
tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film,
sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain.
Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar lingkungan yang semua itu dapat dimanfaatkan untuk
keperluan belajar.
Pendidik hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber
belajar yang ada. Bahkan pendidik hanya salah satu sumber belajar yang berupa
orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium, tokoh-tokoh
masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. Dilihat dari segi fungsi
dan perannya, terutama kemampuannya dalam melakukan interaksi dan komunikasi
dengan para pengerajin,
sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: alat peraga (teaching aids) atau
alat audio visual (audio-visual aids) dan media pembelajaran. Sumber
belajar dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi dan mampu berinteraksi
dengan pengrajin dalam suatu kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu sumber belajar harus
dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan
pembelajaran yang akan dilaksanakan dan juga berdasarkan pada karakteristik
para pengerajin yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
d.
Manfaat Sumber Belajar
Sumber belajar memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Meningkatkan
produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu pendidik untuk
menggunakan waktusecara lebih baik dan (b) mengurangi beban pendidik dalam
menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan
gairah.
2. Memberikan
kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual,dengan cara: (a)
mengurangi kontrol pendidik yang kaku dan tradisional; dan(b) memberikan
kesempatan bagi pengerajin untuk berkembang sesuai dengankemampuannnya.
3. Memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara:(a) perancangan
program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan
pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
4. Lebih
memantapkan pembelajaran, dengan jalan:(a) meningkatkan kemampuan sumber
belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan
belajar secara seketika, yaitu:(a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran
yang bersifat verbal danabstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b)
memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan
penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu
menembus batas geografis.
Manfaat-manfaat di atas sekaligus menggambarkan tentang
alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian
hasil pembelajaran pengerajin.
e. Peranan Sumber Belajar dalam Proses
Pembelajaran life skill
Sumber
belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran life skill yang dilakukan, adapun
peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Peranan
sumber belajar dalam pembelajaran Individual.
Pola
komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber
belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran
individual adalah pada pengerajin, sedang pendidik mempunyaiperanan sebagai
penunjang atau fasilitator.
Dalam
pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda
yaitu :(1) Front
line teaching method, dalam pendekatan ini pendidik berperanmenunjukkan
sumber belajar yang perlu dipelajari.(2) Keller Plan, yaitu pendekatan
yang menggunakan teknik personalizedsystem of instruksional (PSI) yang
ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus
untuk belajar individual. (3) Metode proyek, peranan pendidik cenderung
sebagai penasehat disbanding pendidik, sehingga pengerajinlah yang bertanggung
jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.
C. Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber
Belajar Life Skill
Lingkungan
dalam pembelajaran life skill dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang
ada di sekolah atau tempat tinggal pengerajin yang temasuk di dalamnya mahluk
hidup maupun benda mati yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar”. Lebih
lanjut dapat dikatakan bahwa lingkungan tersebut dapat menjadi objek
pengamatan, sarana atau tempat melakukan percobaan/penyelidikan dan sebagai
tempat mendapatkan informasi. Atas dasar pengertian tersebut, “lingkungan” merupakan
sesuatu yang sangat penting, baik sebagai wahana maupun sebagai objek
pembelajaran life skill. Oleh karena
itu boleh saja ada anggapan bahwa banyak sekolah miskin atau kekurangan buku
sumber atau alat peraga praktik buatan pabrik, tetapi tidak akan ada sekolah
yang kekurangan lingkungan sebagai sumber belajar, (http//www.Sweetyhome.wordpress.comi di akses tanggal 27 Januari
2016)
Pembahasan
mengenai lingkungan, ada dua istilah yang sangat erat kaitannya tetapi berbeda
secara gradual yaitu “alam sekitar” dan “lingkungan”. Alam sekitar mencakup
segala hal yang ada disekitar baik yang jauh maupun yang dekat letaknya, baik
masa silam maupun yang akan datang tidak terikat pada dimensi waktu dan tempat.
Sedangkan lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki
makna dan pengaruh tertentu pada individu. Istilah lain yang erat kaitannya
dengan lingkungan adalah ‘’ekologi’’ atau sering disebut ‘’lingkungan hidup’’
ekologi terdiri atas bio-ekologi, geo-ekologi, dan kultur-ekologi. Bio-ekologi
mencakup unsur lingkungan yang hidup meliputi manusia, tumbuh-tumbuhan dan
binatang. Geo-ekologi mencakup alam seperti bumi, air, matahari, dan
sebagainya. Kultur-ekologi mencakup budaya dan teknologi, Mulyasa (2008:100).
Lingkungan
sangat berhubungan dengan pembelajaran life
skill, karena dalam pembelajaran life
skill perlu pendekatan lingkungan, di mana pendekatan tersebut merupakan
suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan ketertiban
pengerajin melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan
ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian pengerajin
jika ada yang di pelajari, diangkat dari lingkungan, sehingga ada yang
dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi kemajuan dan
perkembangan potensi pengerajin. Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti
pengerajin mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri
apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun
lingkungan pekerjaan. Oleh karena itu, pengerajin dapat menanyakan sesuatu yang
ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu
tentang masalah tersebut, Mulyasa (2008:101).
Ada
empat sumber belajar yang berkenaan
langsung dengan lingkungan, Rahmat (2000:196) sebagai berikut:
a. Masyarakat kota atau desa sekeliling tempat pekerjaan;
b. Lingkungan fisik di sekitar tempat pekerjaan;
c. Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang
terbuang yang dapat menimbulkan pemahaman lingkungan;
d. Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dimanfaatkan
cukup menarik perhatian pengerajin.
Berdasarkan
uraian di atas maka diketahui bahwa di sekitar pekerjaan terdapat berbagai macam sumber belajar yang
dapat di manfaatkan pengerajin dalam proses pembelajaran life skill. Dengan demikian pengerajin akan lebih mengenal
lingkungannya, pengetahuan pengerajin akan lebih autentik, sifat verbalisme
pada pengerajin dapat dikurangi serta pengerajin akan lebih aktif dan lebih
banyak berlatih serta yang terpenting pengerajin dapat meningkatkan kualitas
dan potensi dirinya.
Pada
proses pembelajaran life skill,
lingkungan sebagai dasar pengajaran adalah factor tradisional yang memengaruhi
tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting, Sandhi S Ari
(2011). Lingkungan belajar/pembelajaran
atau fasilitatoran terdiri atas:
1. Lingkungan sosial yaitu lingkungan masyarakat baik
kelompok besar maupun kelompok kecil;
2. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai
suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya;
3. Lingkungan alam (fisik) meliputi sumber daya alam yang
dapat diberdayakan sebagai sumber belajar;
4. Lingkungan kultural mencakup hasil budaya dan teknologi
yang dijadikan sumber belajar dan dapat menjadi faktor pendukung pengajaran.
Dalam
konteks ini termasuk sistem nilai, norma, dan adat kebiasaan. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber
belajar seperti yang telah dijelaskan terdahulu sebenarnya sudah lama disadari
oleh pengerajin, namun kesadaran itu
tidaklah berarti bahwa lingkungan sudah dimanfaatkan secara maksimal sebagai
sumber belajar di lingkungan pekerjaan
dalam menunjang potensi kemampuan dan ketrampilan pengerajin itu
sendiri. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain dari
faktor fasilitator, faktor dana, sarana
prasarana, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal pemanfaatan lingkungan sebagai
sumber belajar tersebut, sangat bergantung pada kreativitas dan kemampuan
pengerajin, waktu yang tersedia, dana yang tersedia, serta kebijakan-kebijakan
lainnya.
Memanfaatkan
lingkungan sebagai media pembelajaran life
skill memiliki banyak keuntungan,(http.www.sweetyhome,wordpress.com//lingkungan-sebagai-sumber-belajar/-Tembolok-Mirip.
Diakses tanggan 27 Januari 2016). Beberapa keuntungan tersebut
yaitu:
1. Menghemat biaya, karena memanfaatkan benda-benda yang
telah ada di lingkungan.
2. Praktis dan mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan
khusus seperti listrik.
3. Memberikan pengalaman yang riil kepada pengerajin,
pelajaran menjadi lebih konkrit.
4. Karena benda-benda tersebut berasal dari lingkungan
pengerajin, maka benda-benda tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan pengerajin. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran
kontekstual (contextual learning).
5. Pelajaran lebih aplikatif, maksudnya materi pelajaran yang
diperoleh pengerajin melalui media lingkungan kemungkinan besar akan dapat
diaplikasikan langsung, karena pengerajin akan sering menemui benda-benda atau
peristiwa serupa dalam kehidupannya sehari-hari.
6. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada
pengerajin. Dengan penggunaan lingkungan, pengerajin dapat berinteraksi secara
langsung dengan benda, lokasi atau peristiwa sesungguhnya secara alamiah.
7. Lebih komunikatif, sebab benda dan peristiwa yang ada di
lingkungan pengerajin biasanya mudah dicerna oleh pengerajin, dibandingkan
dengan media yang dikemas.
Dengan
memahami berbagai keuntungan tersebut, seharusnya dapat tergugah untuk
memanfaatkan semaksimal mungkin lingkungan di sekitar dalam rangka menunjang
kegiatan pembelajaran life skill.
Lingkungan menyimpan berbagai jenis sumber dan media belajar yang hampir tak
terbatas. Lingkungan dapat dimanfaatkan
sebagai sumber belajar untuk berbagai jenis ketrampilan berdasarkan
prinsip-prinsip atau kriteria pemilihan media dan menyesuaikannya dengan
tujuan, karakteristik pengerajin dan topik yang akan dipelajari.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan pada penelitian
ini adalah penelitian kualitatif, yaitu sebuah pendekatan penelitian yang
diselenggarakan dalam setting ilmiah, memerankan peneliti sebagai instrumen pengumpul
data utama, menggunakan analisis induktif.. Furchan (1982: 50) menyatakan metode
penlelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis
data yang diperlukan guna menjawab persoalan yang dihadapi.
Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian studi kasus.Studi kasus adalah eksplorasi tentang sebuah sistem yang
terbatas dari sebuah ataupun beberapa kasus. Sistem terbatas ini dibatasi oleh
waktu dan tempat. Substansi kasus itu sendiri bisa berupa program, peristiwa,
proses (kegiatan), ataupun kelompok individu. Substansi kasus merupakan pilihan
pihak peneliti itu sendiri, sedangkan batasan tempat dan waktu mengacu pada
kondisi sebagaimana adanya dari substansi yang bersangkutan. Kasus yang dikaji
bisa kasus tunggal dan bisa juga multi kasus. Kajiannya dilakukan melalui
pengumpulan data yang rinci dan mendalam, mencakup multi sumber informasi yang
kaya konteks. Yin dalam Moedzakir (2010:171). Subtansi kasus penelitihan ini berfokus
pada Pemanfaatan lingkungan sebagai Sumber Belajar Life Skill pada Kampung Keramik Dinoyo Malang.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan,
maka dalam proses penelitian ini peneliti berperan sebagai instrumen utama
sekaligus sebagai pengumpul data yang terjun langsung melihat lokasi
penelitian. Ciri utama penelitian kualitatif yaitu manusia sangat berperan
dalam keseluruhan proses penelitian, termasuk dalam pengumpulan data, bahkan
peneliti itu sendirilah instrumennya (Moleong, 2005:241).
Untuk menghimpun data
yang cukup banyak dan beragam yang berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan
sebagai sumber berlajar life skill,
maka peneliti terjun langsung ke lapangan. Peneliti itu
sendiri dibantu dengan
menggunakan alat pengumpul data atau instrumen yaitu
observasi partisipasi, wawancara partisipan,dan dokumentasi. Sumber data yang
diwancarai sebanyak lima orang pengrajin.
pengecekan data dilakukan dengan ketekunan
pengamatan dan triangulasi
yaitu dengan membandingkan data-data itu dari
berbagai sumber dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Tujuan triangulasi ini adalah untuk mencari benang
merah yang mengaitkan antara pendapat, pandangan, pemikiran, ide yang bersifat
ideal, dengan hasil pengamatan peneliti di lapangan. Dengan demikian peneliti
akan memperoleh kejelasan atas latar alasan terjadinya persamaan atau perbedaan
dari benang merah tersebut terutama dalam kaitan dengan pandangan-pandangan
yang ideal dengan kenyataan yang sebenarnya
terjadi untuk menjawab Pemanfaatan
lingkungan sebagai Sumber Belajar Life
Skill pada Kampung Keramik Dinoyo Malang.
Hasil Penelitian
1. Pengrajin memanfaatkan lingkungan sebagai sumber
belajar life skill kerajinan keramik melalui pelatihan, studi
banding yang diselenggarahkan oleh pemerintah dan Lembaga Swasta. Namun tidak
semua pengrajin mendapatkan pelatihan dan studi bading dikarenakan factor
internal dan eksternal pengrajin. Serta pengrajin kerja sama dengan
sekolah-sekolah, serta Universitas untuk berbagi pengetahuan dan ketrampilan
dan juga yang terpenting pengrajin mendapatkan manfaat peningkatan life skill kerajinan keramik.
2. Pengrajin mengoptimalkan lingkungan yang ada secara
mandiri, melalui buku bacaan, internet, media social, diskusi dengan pembeli
dalam meningkatan life skill kerajinan keramik.
3. Kendala yang dialami oleh pengrajin dinoyo yaitu belum
bisa membuat sendiri bahan baku seperi glastu dan masse, selama ini tergantung
dari UPT Kerajinan Keramik Provinsi Jawa Timur.
4. Sarana dan prasaran yang ada di lingkungan sekitar
belum cukup memadahi sehingga kurangnya kemudahan untuk meningkatkan life skill kerajinan keramik bagi
pengrajin seperti peralatan yang masih menggunakan alat tradisional karena
kurangnya modal, sempitnya akses jalan dan tidak ada lahan parkir menyebabkan
terhambatnya mobilitas dan pemasaran keramik Dinoyo,
5. Paguyuban pengrajin keramik dinoyo belum berfungsi
dengan baik dikarenakan belum dapat memberikan sarana persatuan antar
pengrajin, kerja sama dan berbagi pengetahuan dan ketrampilan kerajinan
keramik, kurangnya ada kerja sama antar pengrajin, kurangnya komunikasi dan
kerjasama antar pengrajin menyebabkan perkembangan potensi life skill kerajinan keramik tidak berkembang merata. Pengrajin
berkomptisi untuk meningkatkan
penjuannya dengan tidak bersinergi dengan pengrajin lainnya
6. Dibutuhkan koperasi yang dapat menampung para
pengrajin untuk bersama-sama menigkatkan kebersamaan, meningkatkan pendapatan khususnya
anggota dalam mencapai tujuan bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, koperasi
yang dapat meningkatkan taraf hidup pengrajin keramik Dinoyo, menimbulkan
semangat kerja anggota dan wadah yang
menaungi dan mengkordinir pengrajin keramik agar bersama-sama meningkatkan
potensi SDM pengrajin keramk dalam menghadapi MEA.
Daftar Pustaka
AECT, 1977,1994. The Definition of
Educational Technology. Washington: Published by Assocation for Educational
Communications snd Technology. Alan, Douglas A. 1967. The Taksonomi Variabel.
Jakarta: Depdikbud.Dirjendikti. P2LPTK. Ahmuddiputra, Enuh, & Atmaja,
Basar, Suyatna. (1986).
Ari, Sandhi S, Pemanfaatan Laboratorium Lingkungan
sebagai Media Pembelajaran IPA yang Bernilai Edukatif dan Ekonomis. http://iyoyee.
Word press.com/2001/11/08/artikel-nonpenelitian-1. Di akses tanggal 27 Januari
2016.
Brolin, D.E.
1989. Life centered career Education: A competency Based Approach. Reston
Fuad Mulyadi Nazir, 2005. Pengaruh
Srategi Pembelajaran Ekspositori Dan Inkuiri Terhadap Prestasi Belajar
Kelistrikan Otomotif Ditinjau Dari Motifasi Berprestasi Dan Pemanfaatan Sumber
Belajar (Eksperimen Pada Pebelajar Kelas 2 SMK di Kabupaten Sragen).
Surakarta: Program Pascasarjana Universitas
Sebelas Maret.
Furchan, Arief. 1982. Pengantar
Penelitian dalam Penelitian Dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Indrajati
Sidi. 2002. Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui pendidikan.
Malik Fadjar,
A. (2003). Pendidikan Kecakapan Hidup Sebagai Upaya Memajukan.
Moedzakir, Djauzi. 2010. Disain Penelitian Kualitatif. Malang:
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang
Moleong, Lexy
J. 2005. Metodologi penelitian kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kendall, John S
dan Marzano, Robert J. 1997. Content Knowledge: A Compedium of Standards and Benchmarkes for K-12
Education Aurora, Colorado. USA:
Lumuan DJ. Andriawan, 2015,
“Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar IPS di SMP Negeri ! Tinakung,
Kabupaten Bangka, Kepulauan. Tesis. Jurusan
Pendidikan IPS, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang
_________.
2002. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan kecakapan Hidup. Buku I, II, dan III.
Jakarta: Depdiknas. JURNAL PENELITIAN
23.
PH, Slamet Pendidikan
Kecakapan Hidup: Konsep Dasar, (http//www. Depdiknas.go.id/jurnal/37/pendidikan-kecakapan-hidup.htm).
Seels, Barbara B. and Rita C. Richey.
1994. Instructional Technology edisi terjemahan Dewi S. Prawiradilaga
dkk. Wongshinton, DC. Setijadi. 1986.Definisi Teknologi Pendidikan:Satuan
Tugas Definisi dan Terminologi AECT.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sweetyhome.wordpress.com/.../pemanfaatan-lingkungan-sebagai-sumber-belajar/Tembolok-Mirip.
Di akses tanggal 27 Januari 2016.
Tim Broad Based Education Depdiknas,
Kecakapan Hidup Melalui Pendekatan Pendidikan
Berbasis Luas, SIC, Surabaya, 2002
Unesco. (2004). Report of The
Inter-Agency Working Group on Life Skills in EFA. Paris: UNESCO.
Basori
(2013). Pemanfaatan social learning network ”Edmodo” dalam membantu
perkuliahan teori bodi otomotif di Prodi PTM JPTK FKIP UNS. Jurnal JIPTEK
6(2), Juli 2013, 99-105.
Gall,
M.D., Gall, J.P., & Borg, W.R. (2007). Educational research: An
introduction, eighth edition. Boston: Person Education, Inc.
[1]Mahasiswa Magister Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana
Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.