Kamis, 21 April 2016

Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Life Skill Pada Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo, Malang.

Syekh Abu Ali Al Hussen [1] (syekhalie89@gmail.com)

Abstract
The purpose of this study to find out how to use the environment as a source of learning life skills at Kampoeng Ceramic Travel Dinoyo, Malang. These researches methods using qualitative researches, researches that kind of case studies. The results of these researches note that craftsmen optimize all the potential that exists in the environment as a learning resource life skilldengan follow training and comparative study organized by the government and private institutions. Craftsmen also working with schools and universities to share their knowledge and skills in the field of ceramics. Then craftsmen harnessing reading books, internet, and social media in improving life skills ceramics. The problem faced by craftsmen Dinoyo are not able to make their own raw materials are like glastu and masse because they depend by UPT Craft Ceramics. Facilities and infrastructure that exist in the environment has not been sufficient so that the lack of facilities to improve the life skills of ceramic craft. Lack of a functioning community Dinoyo ceramics led to a lack of togetherness and the development of human potential that is thorough, the craftsmen compete individually in the improvement efforts. There needs to be a cooperative unitcan be a container ceramic potters Dinoyo morning.

Keywords : ceramic crafts environment , life skills , learning resources .

Abstrak
Tujuaan penelitihan ini untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill pada Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo, Malang. Metode Penelitihan ini menggunakan metode penelitihan kualitatif, jenis penelitihan yaitu studi kasus. Hasil penelitihan ini diketahui bahwa pengrajin mengoptimalkan segala potensi yang ada di lingkungannya sebagai sumber belajar life skilldengan mengikuti Pelatihan dan study banding yang diselenggarakan oleh pemerintah dan lembaga swasta. Pengrajin juga melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah dan universitas untuk saling berbagi pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang kerajinan keramik. Kemudian pengrajin memanfaatkan sumber buku bacaan, internet, dan media social dalam meningkatkan life skill kerajinan keramik. Kendala yang dialami oleh pengrajin dinoyo yaitu belum bisa membuat sendiri bahan baku seperi glastu dan masse karena masih tergantung oleh UPT Kerajinan Keramik. Sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekitar belum cukup memadai sehingga kurangnya kemudahan untuk meningkatkan life skill kerajinan keramik. Kurang berfungsinya paguyuban keramik Dinoyo menyebabkan kurangnya kebersamaan dan perkembangan potensi SDM yang menyeluruh, para pengrajin berkompetisi sendiri-sendiri dalam peningkatan usahanya. Dibutuhkan adanya koperasi unit keramik yang dapat menjadi wadah pagi pengrajin keramik Dinoyo
Kata Kunci: kerajinan keramik lingkungan, life skill, sumber belajar.

Pendahuluan
   Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah diberlakukan saat ini sejak tahun 2015. MEA merupakan salah satu pilar-pilar impian masyarakat ASEAN yang dicetuskan dalam kesepakatan Bali Concord II. Masyarakat ASEAN diharapkan memiliki 4 karakteristik utama yaitu sebagai (1) pasar tunggal dan kesatuan basis produksi, (2) kawasan ekonomi yang berdaya saing, (3) pertumbuhan ekonomi yang merata, dan (4) meningkatkan kemampuan untuk berintegrasi dengan perekonomian global.
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) meningkatkan kemampuan untuk berintegrasi dengan perekonomian global. MEA membawa dampak positif dan dampak negatif kepada Usaha Kecil Menengah UKM di Indonesia, termasuk juga UKM yang ada di Kota dan Kabupaten yang ada di Indonesia. Salah satu kota di wilayah Indonesia yang menerapkan MEA adalah Kota Malang. Dampak positif yang muncul adalah masyarakat dapat menjual dengan bebas barang-barang hasil produksinya ke Negara di ASEAN dengan mudah, namun dampak negatifnya akan banyak produk-produk yang masuk kedalam negeri sehingga menjadikan persaingan menjadi lebih ketat.
Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah kota Surabaya yang letaknya sangat strategis ditengah-tengah Wilayah Kabupaten Malang, memiliki iklim yang sejuk dengan suhu max/min 20 C s/d 28 C karena berada pada ketinggian 440-667 m diatas permukaan laut dengan luas wilayah 110.006 km2. Dengan kelebihan tersebut menjadikan kota Malang memiliki banyak potensi antara lain dalam bidang Pendidikan, pariwisata, industri, pertanian dan perdagangan. Kota Malang yang juga dikenal dengan sebutan Kota Tri Bina Cipta, Kota Pendidikan, Industri  dan Pariswisata.
Diakui bahwa di daerah-daerah banyak berkembangan usaha mikro kecil (UKM) untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Adakalanya perkembangan usaha mikro kecil tersebut mengalami kemajuan dan tidak sedikit yang hanya jalan di tempat (stagnancy) dan, bahkan ada yang gulung tikar. Demikian juga halnya usaha mikro kecil di Kota Malang  yang  banyak  berbergerak diberbagai unit usaha. Salah satu di antaranya adalah usaha mikro kecil keramik Dinoyo yang digeluti oleh masyarakat Dinoyo sejak tahun 1962 dan telah menjadi  Kawasan Pusat Sentra Keramik di Kota Malang.
Keramik Dinoyo ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat kota Malang saja, tetapi sudah terkenal di seluruh Indonesia Bahkan Luar Negeri. Pembeli datang dari berbagai daerah, bukan hanya masyarakat dari wilayah Malang dan sekitarnya,tetapi juga masyarakat dari luar Malang bahkan masyarakat luar Jawapun banyak yang berdatangan di Dinoyo untuk belanja kerarnik dan sejenisnya, baik itu untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk diperdagangkan seperti dari Kalimantan,Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Padang, Lampung, Aceh, Sumatera dan bahkan keramik Dinoyo ini sudah menembus Asia seperti Malaysia dan Singapura.
Pasca badai krisis ekonomi (moneter) Indonesia tahun 1997 dan kenaikan BBM awal tahun 2005 sampai sekarang, memicu menyebabkan turunnya permintaan di beberapa bidang usaha. Sebagai sentra produksi keramik dengan berbagai macam bentuk produksinya, masyarakat Dinoyo juga tidak terlepas dari terpaan krisis ekonomi yang mengakibatkan biaya produksi untuk setiap satu unit barang meningkat tajam, meningkatnya harga bahan baku, namun harga jual produk tidak meningkat. Pada awalnya terjadi penurunan produksi karena permintaan turun, tetapi tidak beberapa lama terjadi peningkatan permintaan, yang secara tidak langsung menuntut adanya peningkatan produksi.
Perkembangan kondisi dinamika sosial ekonomi pengusaha keramik Dinoyo ini diduga terjadi karena adanya faktor internal dan eksternal serta lingkungan yang saling menunjang. Pertama faktor internal, kondisi ini terlihat dengan adanya dinamika SDM dan mobilitas sosial masyarakat yang berupaya saling memberdayakan diri dalam sektor usaha keramik. Hal ini disebabkan tutupnya pabrik keramik Dinoyo pada tahun 2008 menyebabkan para pengrajin harus bisa survive, melanjutkan kehidupannya dengan berdaya dan mandiri. Melihat prospek yang cukup bagus di sektor usaha keramik, anggota masyarakat yang semula sebagai pekerja pada pabrik keramik dinoyo memberanikan diri untuk mendirikan sendiri usaha keramik dengan modal pengalaman dan keterampilan serta tabungan yang dimilikinya.
Kondisi keadaan lingkungan  masyarakat memang memiliki potensi untuk berkembang dengan adanya usaha yang dimiliki dan menguatnya hasrat untuk lebih berdaya mendorong masyarakat yang menggeluti usaha keramik untuk meningkatkan produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam diri pengusaha keramik berupaya pengoptimalan SDM secara maksimal dengan memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya dan potensi yang ada di lingkungan sekitar kawasan kampoeng wisata keramik Dinoyo untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya. Untuk dapat mempertahankan eksistensi UKM dan mampu bersaing dengan Negara-negara ASEAN maka dibutuhkan suatu yang berada di masyarakat Kota Malang.
   Salah satu upaya dalam upaya pengoptimalan SDM yang berkualitas dan kompetitif  bagi pelaku UKM kerajinan keramik yaitu pendidikan kecakapan hidup (life skill education). Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberi bekal dasar dan latihan dengan memanfaatkan yang ada, dilakukan secara benar kepada pengerajin tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya dimasa yang akan datang.
Pendidikan kecakapan Hidup yaitu menciptakan adanya sistem lingkungan (setting) belajar yang lebih kondusif dalam proses pembelajaran. Sistem lingkungan belajar ini sendiri dipengaruhi oleh beberapa komponen yang saling memengaruhi. Untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran tersebut, salah satu faktor yang penting adalah tersedianya sumber belajar yang cukup bagi pengerajin. Dengan melihat tujuan pembelajaran life skill di dunia kerja  yang erat kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan sekitarnya, maka sumber belajar untuk proses pembelajaran life skill di dunia kerja  tidak akan cukup dengan hanya mengandalnkan ketersediaan orang  yang ada.
Sumber belajar life skill di dunia kerja akan lebih optimal jika didukung dengan sumber belajar yang berasal dari lingkungan tempat tinggal pengerajin, atau lingkungan dimana dunia kerja itu berada. Dalam pengertian yang sederhana, sumber belajar diartikan sebagai orang dan bahan pelajaran baik buku-buku bacaan, peralatan, dan lingkungan. Barbara S. Seels dan Rita C. Richey (1994 : 13) menyatakan ” Sumber belajar adalah asal yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dan lingkungan”. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan dan alat yang digunakan dalam proses pembelajaran saja, melainkan tenaga, biaya dan fasilitas.
Sumber belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi, pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1994). Edgar Dale yang dikutip Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 50) sumber belajar itu pengalaman. Ia mengklasifikasikan pengalaman yang dipakai sebagai sumber belajar menurut jenjang tertentu berbentuk Cone of experience atau kerucut pengalaman yang disusun dari konkret sampai yang abstrak.
Edgar Dale dalam Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 162) mengemukakan sumber belajar adalah, ”segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar pengerajin dengan: (1) Mengalaminya secara langsung (pengalaman langsung dan bertujuan, pengalaman tiruan, pengalaman dramatis, pengalaman percontohan, dan pengalaman darma wisata); (2) Mengamati orang lain melakukannya (pengalaman pameran, penglaman televisi, pengalaman film, penglaman radio), dan (3) membaca (pengalaman lambang visual, dan pengalaman lambang kata). ”. Ada dua macam sumber belajar, yaitu sumber belajar yang memang dikembangkan dan disiapkan yang disebut dengan resources by design, dan sumber belajar yang tidak direncanakan secara khusus untuk pengajaran, tetapi dapat digunakan untuk belajar yang disebut dengan resources by utilization, Terdapat enam macam sumber belajar yaitu pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar lingkungan, AECT (1977).
Dari pendapat mengenai sumber belajar terdapat kesamaan yaitu segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai sumber belajar bagi pengerajin. Dengan kata lain, sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang life skill kerajinan keramik yang dipelajarinya. Oleh karena itu, sumber belajar yang beraneka ragam, diantaranya berupa bahan pembelajaran memberikan sumbangan yang positif dalam peningkatan mutu SDM, apalagi dengan diberlakukannya pasar bebas ASEAN sekarang ini, dunia kerja dituntut untuk dapat turut serta dalam persaingan pasar bebas Asean. Pembelajaran akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan lingkungan yang dekat dengan pengerajin. Pengerajin akan lebih mudah meningkatkan potensi dirinya jika memanfaatkan sumber belajar yang ada di sekitarnya..
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa selama ini masih kurangnya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill menyebabkan ketertingaalan kemajuan disain, model, efektifitas, dan efisiensi produk keramik yang dibuat (O1/P1/2015/11/24). Diketahui bahwa pengrajin kurang mampu memanfaatkan potensi lingkungan yang ada untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Penelitihan ini memfokuskan kepada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill yang dilaksanakan oleh pengrajin unit sentra kerajinan keramik dinoyo. Dalam hal ini pemanfaatan dan pengoptimalan lingkungan pekerjaan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam meningkatkan potensi pengrajin keramik Dinoyo. Selanjutnya masalah tersebut dikaji dalam penelitihan ini yaitu Bagaimana pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar life skill pada kampoeng Wisata Keramik Dinoyo, Malang?

Landasan Teori
1.      Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)
Menurut Indrajati sisi (2002), kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mampu menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Dalam pandangan Slamet PH (2002), kecakapan hidup adalah pendidikan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia.
Brolin (1989), mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk berfungsi dan bertindak secara mandiri dan otonom dalam kehidupan sehari-hari, tidak harus selalu meminta bantuan dan petunjuk pihak lain. Ini berarti bahwa bentuk kecakapan hidup berupa pengetahuan sebagai praktis dan kiat (praxis dan techne), bukan teori; pengetahuan sebagai skills of doing sekaligus skills of being. Pendidikan berjalan pada setiap saat dan pada segala tempat. Setiap orang dari anak-anak hingga tua mengalami proses pendidikan melalui apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan.
            Walaupun tidak ada pendidikan yang sengaja diberikan, secara alamiah setiap orang akan terus belajar dari lingkungannya. Pendidikan kecakapan hidup  diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi pengerajin. Apabila dikaitkan dengan life skill, maka pendidikan sebagai sistem yang pada dasarnya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman. Oleh karena itu, secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses pengalaman belajar yang berguna bagi pengerajin, pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki pengerajin, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema dalam kehidupan yang dihadapi. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya.
            Pendidikan yang dapat disinergikan berbagai pembelajaran menjadi kecakapan hidup yang diperlukan seseorang, dimanapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup tersebut, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari dan menciptakan pekerjaan bagi meraka yang tidak melanjukan pendidikannya, (Depdiknas, 2002). Kendall dan Marzano (1997) menegaskan bahwa kecakapan hidup (life skill) telah menjadi salah satu hal yang harus dimiliki dan dikuasai oleh masyarakat, termasuk pengerajin, agar mereka mampu berperan aktif dalam lapangan kerja yang ada serta mampu berkembang.
            Indrajati Sidi (2002) menyatakan bahwa kecakapan hidup lebih luas dari keterampikan untuk bekerja, dan dapat dipilih menjadi lima, yaitu: (1.) kecakapan mengenal diri (self awarness), yang juga disebut kemampuan personal (personal skill), (2.) kecakapan berpikir rasional (thingking skill, (3.) kecakapan sosial (social skill), (4.) kecakapan akademik (academic skill), dan (5.) kecakapan vokasional (vocational skill). Tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah mengfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi pengerajin untuk menghadapi perannya dimasa datang. Secara khusus, pendidikan berorientasi kecakapan hidup bertujuan : (1.) mengaktualisasikan potensi pengerajin sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi, (2.) memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan (3.) mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya lingkungan yang ada dimasyarakat, dengan prinsip manajemen berbasis masyarakat (indrajati sidi, 2002).
            Dari uraian diatas maka dapat disarikan bahwa kecakapan hidup (life skill) adalah kemampuan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat, seperti kemampuan berfikir, berkomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, melaksanakan peran sebagai warga Negara yang bertanggung jawab dan mampu berkompetisi di dunia kerja khususnya bidang kerajinan keramik.
2.      Sumber Belajar
a.      Pengertian Sumber Belajar
Barbara S. Seels dan Rita C. Richey (1994 : 13) menyatakan ” Sumber belajar adalah asal yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dan lingkungan”. Sumber belajar tidak hanya terbatas pada bahan dan alat yang digunakan dalam proses pembelajaran saja, melainkan tenaga, biaya dan fasilitas.
Sumber belajar mencakup apa saja yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan kompetensinya. Sumber belajar meliputi, pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1994). Sumber belajar adalah segala sesuatu dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu. Pada proses belajar komponen sumber belajar itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Edgar Dale yang dikutip Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 50) sumber belajar itu pengalaman. Ia mengklasifikasikan pengalaman yang dipakai sebagai sumber belajar menurut jenjang tertentu berbentuk Cone of experience atau kerucut pengalaman yang disusun dari konkret sampai yang abstrak.
Edgar Dale dalam Fuat Mulyadi Nazir (2005 : 162) mengemukakan sumber belajar adalah, ”segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar pengerajin dengan: (1) Mengalaminya secara langsung (pengalaman langsung dan bertujuan, pengalaman tiruan, pengalaman dramatis, pengalaman percontohan, dan pengalaman darma wisata); (2) Mengamati orang lain melakukannya (pengalaman pameran, penglaman televisi, pengalaman film, penglaman radio), dan (3) membaca (pengalaman lambang visual, dan pengalaman lambang kata). ” Dari pendapat mengenai sumber belajar terdapat kesamaan yaitu segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai sumber belajar bagi pengerajin. Dengan kata lain, sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang pekerjaan atau mata pelajaran yang dipelajarinya.
b.      Tujuan Sumber belajar
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpandalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu pengerajin dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh pengerajin ataupun pendidik.
Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran, makalah, 2004) adlah; (1) Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya tempat kerja, lingkungan sekitar pekerjaan. perpustakaan, pasar, sungai, gunung, tempat penyelenggara pendidikan, UPT Keramik Provinsi Jawa Timur,  dan lain sebagainya. (2) Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi pengerajin, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya. (3) Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana pengerajin dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya pendidik, ahli keramik, dinas kebudayaan dan pariwisata, dan ahli-ahli lainnya. (4)  Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.(5) Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh pengerajin dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, karya ilmiah kamus, ensiklopedi, fiksi, buku kerajinan keramik, dan lain sebagainya.(6)  Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, pengangguran, kemiskinan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang pendidik dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.
c.       Macam-macam Sumber Belajar
Sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi pengerajin. Sumber belajar ini bermanfaat dalam memberikan sumbangan yang positif untuk peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Terdapat enam macam sumber belajar yaitu pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar lingkungan, Jenis sumber belajar menurut AECT (1977) dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1)      Pesan (messages), yaitu informasi yang ditransmisikan oleh komponen lain dalam bentuk ide, fakta, seni, dan data. Dalam sistem persekolahan, pesan ini berupa seluruh mata pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik..
2)      Orang (peoples), bertindak sebagai penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Coba Anda berikan contoh? Contohnya guru, dosen, tutor, pustakawan, laboran, instruktur, widyaiswara, pelatih olah raga, tenaga ahli, produser, peneliti dan masih banyak lagi, bahkan termasuk peserta didik itu sendiri. Selain itu, staf pendukung dan ahli mata pelajaran sering sebagai sumber untuk pengajar dan peserta didik. Orang-orang tersebut memiliki pengetahuan luas dan pengalaman banyak berkaitan dengan sumber-sumber belajar yang menjadi spesialisasinya. Mereka ini sering dimanfaatkan sebagai fasilitator ketika dibutuhkan oleh peserta didik karena luas pengetahuan dan pengalamannya. Pada suatu saat seseorang mungkin sebagai resources by design, namun pada kasus lain, mungkin sebagai resources by utilization (Anita, 2009).
3)      Bahan (materials), yaitu perangkat lunak (software) yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat ataupun dirinya sendiri. Coba Anda berikan contoh? Misalnya buku teks, modul, transparansi (OHT), kaset program audio, kaset program video, program slide suara, programmed instruction, CAI (pembelajaran berbasisi komputer), film dan lain-lain.
4)      Alat (devices), yaitu perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan dalam bahan. Coba Anda berikan contoh? Misalnya OHP, proyektor slide, tape recorder, video player /CD player, komputer, proyektor film, dan lain-lain.
5) Teknik (tecniques), yaitu prosedur atau acuan yang disiapkan untuk menggunakan bahan, peralatan, orang, dan lingkungan untuk menyampaikan pesan. Coba Anda berikan contoh? Misalnya demonstrasi, diskusi, praktikum, pembelajaran mandiri, sistem pendidikan terbuka/jarak jauh, tutorial tatap muka, dan sebagainya.
6) Lingkungan (setting), yaitu situasi di sekitar terjadinya proses pembelajaran di mana peserta didik menerima pesan pembelajaran
Lingkungan dibedakan menjadi dua macam, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik contohnya, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, aula, bengkel, dan lain-lain. Sedangkan lingkungan non fisik contohnya: suasana belajar, tata ruang belajar, ventilasi udara, cuaca, suasana lingkungan belajar dan lain-lain. Keenam sumber belajar tersebut juga merupakan komponen system dalam pembelajaran, artinya dalam setiap kegiatan pembelajaran selalu terdapat keenam komponen tersebut. Bahan-bahan yang merupakan sumber belajar tersebut perlu dikembangkan dan dikelola dengan sebaik-baiknya oleh sebuah badan/wadah yang disebut Pusat Sumber Belajar agar dapat memberikan kemudahan dan berfungsi secara optimal untuk proses pembelajaran.
Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang (Learning resource by Design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (Learning Resource by Utilization ) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar lingkungan  yang semua itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.
Pendidik hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber belajar yang ada. Bahkan pendidik hanya salah satu sumber belajar yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium, tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. Dilihat dari segi fungsi dan perannya, terutama kemampuannya dalam melakukan interaksi dan komunikasi dengan para pengerajin, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: alat peraga (teaching aids) atau alat audio visual (audio-visual aids) dan media pembelajaran. Sumber belajar dapat berfungsi sebagai saluran komunikasi dan mampu berinteraksi dengan pengrajin dalam suatu kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Oleh sebab itu sumber belajar harus dikembangkan dan dirancang secara sistematis berdasarkan kebutuhan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan juga berdasarkan pada karakteristik para pengerajin yang akan mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
d.      Manfaat Sumber Belajar
Sumber belajar memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu pendidik untuk menggunakan waktusecara lebih baik dan (b) mengurangi beban pendidik dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual,dengan cara: (a) mengurangi kontrol pendidik yang kaku dan tradisional; dan(b) memberikan kesempatan bagi pengerajin untuk berkembang sesuai dengankemampuannnya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara:(a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan:(a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu:(a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal danabstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
Manfaat-manfaat  di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran pengerajin.
e.        Peranan Sumber Belajar dalam Proses Pembelajaran life skill
Sumber belajar mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran life skill yang dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Peranan sumber belajar dalam pembelajaran Individual.
Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran individual adalah pada pengerajin, sedang pendidik mempunyaiperanan sebagai penunjang atau fasilitator.
Dalam pembelajaran individual terdapat tiga pendekatan yang berbeda
yaitu :(1) Front line teaching method, dalam pendekatan ini pendidik berperanmenunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari.(2) Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalizedsystem of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual. (3) Metode proyek, peranan pendidik cenderung sebagai penasehat disbanding pendidik, sehingga pengerajinlah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.

C.  Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Life Skill
Lingkungan dalam pembelajaran life skill  dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang ada di sekolah atau tempat tinggal pengerajin yang temasuk di dalamnya mahluk hidup maupun benda mati yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar”. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa lingkungan tersebut dapat menjadi objek pengamatan, sarana atau tempat melakukan percobaan/penyelidikan dan sebagai tempat mendapatkan informasi. Atas dasar pengertian tersebut, “lingkungan” merupakan sesuatu yang sangat penting, baik sebagai wahana maupun sebagai objek pembelajaran life skill. Oleh karena itu boleh saja ada anggapan bahwa banyak sekolah miskin atau kekurangan buku sumber atau alat peraga praktik buatan pabrik, tetapi tidak akan ada sekolah yang kekurangan lingkungan sebagai sumber belajar, (http//www.Sweetyhome.wordpress.comi di akses tanggal 27 Januari 2016)
Pembahasan mengenai lingkungan, ada dua istilah yang sangat erat kaitannya tetapi berbeda secara gradual yaitu “alam sekitar” dan “lingkungan”. Alam sekitar mencakup segala hal yang ada disekitar baik yang jauh maupun yang dekat letaknya, baik masa silam maupun yang akan datang tidak terikat pada dimensi waktu dan tempat. Sedangkan lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan pengaruh tertentu pada individu. Istilah lain yang erat kaitannya dengan lingkungan adalah ‘’ekologi’’ atau sering disebut ‘’lingkungan hidup’’ ekologi terdiri atas bio-ekologi, geo-ekologi, dan kultur-ekologi. Bio-ekologi mencakup unsur lingkungan yang hidup meliputi manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Geo-ekologi mencakup alam seperti bumi, air, matahari, dan sebagainya. Kultur-ekologi mencakup budaya dan teknologi, Mulyasa (2008:100).
Lingkungan sangat berhubungan dengan pembelajaran life skill, karena dalam pembelajaran life skill perlu pendekatan lingkungan, di mana pendekatan tersebut merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan ketertiban pengerajin melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian pengerajin jika ada yang di pelajari, diangkat dari lingkungan, sehingga ada yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi kemajuan dan perkembangan potensi pengerajin. Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti pengerajin mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun lingkungan pekerjaan. Oleh karena itu, pengerajin dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang masalah tersebut, Mulyasa (2008:101).
Ada empat sumber  belajar yang berkenaan langsung dengan lingkungan, Rahmat (2000:196) sebagai berikut:
a. Masyarakat kota atau desa sekeliling tempat pekerjaan;
b. Lingkungan fisik di sekitar tempat pekerjaan;
c. Bahan sisa yang tidak terpakai dan barang bekas yang terbuang yang dapat menimbulkan pemahaman lingkungan;
d. Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dimanfaatkan cukup menarik perhatian pengerajin.

Berdasarkan uraian di atas maka diketahui bahwa di sekitar pekerjaan  terdapat berbagai macam sumber belajar yang dapat di manfaatkan pengerajin dalam proses pembelajaran life skill. Dengan demikian pengerajin akan lebih mengenal lingkungannya, pengetahuan pengerajin akan lebih autentik, sifat verbalisme pada pengerajin dapat dikurangi serta pengerajin akan lebih aktif dan lebih banyak berlatih serta yang terpenting pengerajin dapat meningkatkan kualitas dan potensi dirinya.
Pada proses pembelajaran life skill, lingkungan sebagai dasar pengajaran adalah factor tradisional yang memengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting, Sandhi S Ari (2011).  Lingkungan belajar/pembelajaran atau fasilitatoran terdiri atas:
1. Lingkungan sosial yaitu lingkungan masyarakat baik kelompok besar maupun kelompok kecil;
2. Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya;
3. Lingkungan alam (fisik) meliputi sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar;
4. Lingkungan kultural mencakup hasil budaya dan teknologi yang dijadikan sumber belajar dan dapat menjadi faktor pendukung pengajaran.
Dalam konteks ini termasuk sistem nilai, norma, dan adat kebiasaan. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar seperti yang telah dijelaskan terdahulu sebenarnya sudah lama disadari oleh pengerajin,  namun kesadaran itu tidaklah berarti bahwa lingkungan sudah dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar di lingkungan pekerjaan  dalam menunjang potensi kemampuan dan ketrampilan pengerajin itu sendiri. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain dari faktor fasilitator, faktor dana, sarana prasarana, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar tersebut, sangat bergantung pada kreativitas dan kemampuan pengerajin, waktu yang tersedia, dana yang tersedia, serta kebijakan-kebijakan lainnya.
Memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran life skill memiliki banyak keuntungan,(http.www.sweetyhome,wordpress.com//lingkungan-sebagai-sumber-belajar/-Tembolok-Mirip. Diakses tanggan 27 Januari 2016). Beberapa keuntungan tersebut yaitu:
1. Menghemat biaya, karena memanfaatkan benda-benda yang telah ada di lingkungan.
2. Praktis dan mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus seperti listrik.
3. Memberikan pengalaman yang riil kepada pengerajin, pelajaran menjadi lebih konkrit.
4. Karena benda-benda tersebut berasal dari lingkungan pengerajin, maka benda-benda tersebut akan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pengerajin. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning).
5. Pelajaran lebih aplikatif, maksudnya materi pelajaran yang diperoleh pengerajin melalui media lingkungan kemungkinan besar akan dapat diaplikasikan langsung, karena pengerajin akan sering menemui benda-benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya sehari-hari.
6. Media lingkungan memberikan pengalaman langsung kepada pengerajin. Dengan penggunaan lingkungan, pengerajin dapat berinteraksi secara langsung dengan benda, lokasi atau peristiwa sesungguhnya secara alamiah.
7. Lebih komunikatif, sebab benda dan peristiwa yang ada di lingkungan pengerajin biasanya mudah dicerna oleh pengerajin, dibandingkan dengan media yang dikemas.
Dengan memahami berbagai keuntungan tersebut, seharusnya dapat tergugah untuk memanfaatkan semaksimal mungkin lingkungan di sekitar dalam rangka menunjang kegiatan pembelajaran life skill. Lingkungan menyimpan berbagai jenis sumber dan media belajar yang hampir tak terbatas. Lingkungan dapat  dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk berbagai jenis ketrampilan berdasarkan prinsip-prinsip atau kriteria pemilihan media dan menyesuaikannya dengan tujuan, karakteristik pengerajin dan topik yang akan dipelajari.

METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu sebuah pendekatan penelitian yang diselenggarakan dalam setting ilmiah, memerankan peneliti sebagai instrumen pengumpul data utama, menggunakan analisis induktif.. Furchan (1982: 50) menyatakan metode penlelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan guna menjawab persoalan yang dihadapi.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus.Studi kasus adalah eksplorasi tentang sebuah sistem yang terbatas dari sebuah ataupun beberapa kasus. Sistem terbatas ini dibatasi oleh waktu dan tempat. Substansi kasus itu sendiri bisa berupa program, peristiwa, proses (kegiatan), ataupun kelompok individu. Substansi kasus merupakan pilihan pihak peneliti itu sendiri, sedangkan batasan tempat dan waktu mengacu pada kondisi sebagaimana adanya dari substansi yang bersangkutan. Kasus yang dikaji bisa kasus tunggal dan bisa juga multi kasus. Kajiannya dilakukan melalui pengumpulan data yang rinci dan mendalam, mencakup multi sumber informasi yang kaya konteks. Yin dalam Moedzakir (2010:171). Subtansi kasus penelitihan ini berfokus pada Pemanfaatan lingkungan sebagai Sumber Belajar Life Skill pada Kampung Keramik Dinoyo Malang.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan, maka dalam proses penelitian ini peneliti berperan sebagai instrumen utama sekaligus sebagai pengumpul data yang terjun langsung melihat lokasi penelitian. Ciri utama penelitian kualitatif yaitu manusia sangat berperan dalam keseluruhan proses penelitian, termasuk dalam pengumpulan data, bahkan peneliti itu sendirilah instrumennya (Moleong, 2005:241).
Untuk menghimpun data yang cukup banyak dan beragam yang berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber berlajar life skill, maka  peneliti terjun langsung ke lapangan. Peneliti itu sendiri dibantu dengan menggunakan alat pengumpul data atau  instrumen yaitu observasi partisipasi, wawancara partisipan,dan dokumentasi. Sumber data yang diwancarai sebanyak lima orang pengrajin.
pengecekan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi yaitu dengan membandingkan data-data itu dari berbagai sumber dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tujuan triangulasi ini adalah untuk mencari benang merah yang mengaitkan antara pendapat, pandangan, pemikiran, ide yang bersifat ideal, dengan hasil pengamatan peneliti di lapangan. Dengan demikian peneliti akan memperoleh kejelasan atas latar alasan terjadinya persamaan atau perbedaan dari benang merah tersebut terutama dalam kaitan dengan pandangan-pandangan yang ideal dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi untuk menjawab Pemanfaatan lingkungan sebagai Sumber Belajar Life Skill pada Kampung Keramik Dinoyo Malang.



Hasil Penelitian
1.      Pengrajin memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar life skill  kerajinan keramik melalui pelatihan, studi banding yang diselenggarahkan oleh pemerintah dan Lembaga Swasta. Namun tidak semua pengrajin mendapatkan pelatihan dan studi bading dikarenakan factor internal dan eksternal pengrajin. Serta pengrajin kerja sama dengan sekolah-sekolah, serta Universitas untuk berbagi pengetahuan dan ketrampilan dan juga yang terpenting pengrajin mendapatkan manfaat peningkatan life skill  kerajinan keramik.
2.      Pengrajin mengoptimalkan lingkungan yang ada secara mandiri, melalui buku bacaan, internet, media social, diskusi dengan pembeli dalam meningkatan life skill  kerajinan keramik.
3.      Kendala yang dialami oleh pengrajin dinoyo yaitu belum bisa membuat sendiri bahan baku seperi glastu dan masse, selama ini tergantung dari UPT Kerajinan Keramik Provinsi Jawa Timur.
4.      Sarana dan prasaran yang ada di lingkungan sekitar belum cukup memadahi sehingga kurangnya kemudahan untuk meningkatkan life skill kerajinan keramik bagi pengrajin seperti peralatan yang masih menggunakan alat tradisional karena kurangnya modal, sempitnya akses jalan dan tidak ada lahan parkir menyebabkan terhambatnya mobilitas dan pemasaran keramik Dinoyo,
5.      Paguyuban pengrajin keramik dinoyo belum berfungsi dengan baik dikarenakan belum dapat memberikan sarana persatuan antar pengrajin, kerja sama dan berbagi pengetahuan dan ketrampilan kerajinan keramik, kurangnya ada kerja sama antar pengrajin, kurangnya komunikasi dan kerjasama antar pengrajin menyebabkan perkembangan potensi life skill kerajinan keramik tidak berkembang merata. Pengrajin berkomptisi  untuk meningkatkan penjuannya dengan tidak bersinergi dengan pengrajin lainnya
6.      Dibutuhkan koperasi yang dapat menampung para pengrajin untuk bersama-sama menigkatkan kebersamaan, meningkatkan pendapatan khususnya anggota dalam mencapai tujuan bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, koperasi yang dapat meningkatkan taraf hidup pengrajin keramik Dinoyo, menimbulkan semangat kerja anggota dan wadah yang menaungi dan mengkordinir pengrajin keramik agar bersama-sama meningkatkan potensi SDM pengrajin keramk dalam menghadapi MEA.


Daftar Pustaka
AECT, 1977,1994. The Definition of Educational Technology. Washington: Published by Assocation for Educational Communications snd Technology. Alan, Douglas A. 1967. The Taksonomi Variabel. Jakarta: Depdikbud.Dirjendikti. P2LPTK. Ahmuddiputra, Enuh, & Atmaja, Basar, Suyatna. (1986).
Ari, Sandhi S, Pemanfaatan Laboratorium Lingkungan sebagai Media Pembelajaran IPA yang Bernilai Edukatif dan Ekonomis. http://iyoyee. Word press.com/2001/11/08/artikel-nonpenelitian-1. Di akses tanggal 27 Januari 2016.
Brolin, D.E. 1989. Life centered career Education: A competency Based Approach. Reston
Fuad Mulyadi Nazir, 2005. Pengaruh Srategi Pembelajaran Ekspositori Dan Inkuiri Terhadap Prestasi Belajar Kelistrikan Otomotif Ditinjau Dari Motifasi Berprestasi Dan Pemanfaatan Sumber Belajar (Eksperimen Pada Pebelajar Kelas 2 SMK di Kabupaten Sragen). Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
            Furchan, Arief. 1982. Pengantar Penelitian dalam Penelitian Dalam Pendidikan.     Surabaya: Usaha Nasional.
Indrajati Sidi. 2002. Konsep Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui pendidikan.
Malik Fadjar, A. (2003). Pendidikan Kecakapan Hidup Sebagai Upaya Memajukan.
Moedzakir, Djauzi. 2010. Disain Penelitian Kualitatif. Malang: Fakultas Ilmu            Pendidikan, Universitas Negeri Malang
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja   Rosdakarya.
Kendall, John S dan Marzano, Robert J. 1997. Content Knowledge: A Compedium of          Standards and Benchmarkes for K-12 Education Aurora, Colorado. USA:
Lumuan DJ. Andriawan, 2015, “Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar IPS di SMP Negeri ! Tinakung, Kabupaten Bangka, Kepulauan. Tesis. Jurusan Pendidikan IPS, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang
_________. 2002. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan kecakapan Hidup. Buku I, II, dan III. Jakarta: Depdiknas. JURNAL PENELITIAN 23.
PH, Slamet Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsep Dasar, (http//www.         Depdiknas.go.id/jurnal/37/pendidikan-kecakapan-hidup.htm).
Seels, Barbara B. and Rita C. Richey. 1994. Instructional Technology edisi terjemahan Dewi S. Prawiradilaga dkk. Wongshinton, DC. Setijadi. 1986.Definisi Teknologi Pendidikan:Satuan Tugas Definisi dan Terminologi AECT.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sweetyhome.wordpress.com/.../pemanfaatan-lingkungan-sebagai-sumber-belajar/Tembolok-Mirip. Di akses tanggal 27 Januari 2016.
Tim Broad Based Education Depdiknas, Kecakapan Hidup Melalui Pendekatan       Pendidikan Berbasis Luas, SIC, Surabaya, 2002
Unesco. (2004). Report of The Inter-Agency Working Group on Life Skills in EFA. Paris: UNESCO.
Basori (2013). Pemanfaatan social learning network ”Edmodo” dalam membantu perkuliahan teori bodi otomotif di Prodi PTM JPTK FKIP UNS. Jurnal JIPTEK 6(2), Juli 2013, 99-105.
Gall, M.D., Gall, J.P., & Borg, W.R. (2007). Educational research: An introduction, eighth edition. Boston: Person Education, Inc.



























[1]Mahasiswa Magister Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar